19 Sep

Kebanyakan orang berasumsi jika Kristen dan Katolik merupakan agama yang sama dan letak perbedaannya hanya pada gereja saja, namun perlu anda ketahui jika anggapan ini adalah salah.

Kristen dan juga Katolik memang memiliki landasan yang sama yakni kepercayaan jika Tuhan hanya satu, agam Kristen sendiri terbagi menjadi 3 aliran yang berbeda yaitu Kristen Katolik, Kristen Protestan dan juga Kristen Ortodoks.

Namun umat Kristen terbagi menjadi dua golongan besar yaitu Kristen Katolik dan juga Kristen Protestan, pembagian ini memiliki latarbelakang sejarah yang cukup panjang saat Pendeta Martin Luther King memutuskan untuk keluar dari ajaran Katolik di abad ke-8 Masehi, sehingga Martin Luther dan juga para pengikutnya membentuk sebuah aliran baru yang dinamakan Kristen Protestan.

  • Perbedaan Atas Dasar Pengakuan Paus

Perbedaan Kristen dan Katolik yang pertama ada pada pengakuan tiap-tiap umat dengan pemimpin tertinggi di dalam agama tersebut. Pada agama Katolik, sampai saat ini mengakui jika mereka di pimpin oleh Paus, sementara tidak demikian dengan umat Kristen yang tidak mengakui Paus sebagai pemimpin paling tinggi agama.

Pengakuan terhadap paus inilah yang menjadi dasar dari pecahnya agama Kristen menjadi dua agama besar, dimulai saat Paus Leo X yang ajarannya tidak sesuai dengan Alkitab dengan cara menjual surat pengampunan dosa untuk bangsawan dan memakai uang tersebut untuk membangun gereja Basilika yang menjadi gereja paling megah di dunia. Ajaran dari Paus Leo X ini dianggap salah dan di tentang oleh Martin Luther yang kemudian memutuskan untuk keluar dari ajaran Katolik bersama dengan para pengikutnya, para umat Katolik kemudian menganggap Martin Luther sebagai seorang kafir dan menamai Protestan.

  • Perbedaan Dari Segi Alkitab

Tidak hanya berbeda dalam urusan pemimpin tertinggi agama, namun Kristen dan Katolik juga berbeda dalam urusan Alkitab, Alkitab sendiri merupakan pegangan dan panduan dalam menjalani agama.

Tidak hanya berbeda dalam urusan pemimpin tertinggi agama, namun Kristen dan Katolik juga berbeda dalam urusan Alkitab, Alkitab sendiri merupakan pegangan dan panduan dalam menjalani agama.

15 Perbedaan Agama Kristen Dan Katolik Yang Paling Mendasar

Kebanyakan orang berasumsi jika Kristen dan Katolik merupakan agama yang sama dan letak perbedaannya hanya pada gereja saja, namun perlu anda ketahui jika anggapan ini adalah salah.

Kristen dan juga Katolik memang memiliki landasan yang sama yakni kepercayaan jika Tuhan hanya satu, agam Kristen sendiri terbagi menjadi 3 aliran yang berbeda yaitu Kristen Katolik, Kristen Protestan dan juga Kristen Ortodoks.

Namun umat Kristen terbagi menjadi dua golongan besar yaitu Kristen Katolik dan juga Kristen Protestan, pembagian ini memiliki latarbelakang sejarah yang cukup panjang saat Pendeta Martin Luther King memutuskan untuk keluar dari ajaran Katolik di abad ke-8 Masehi, sehingga Martin Luther dan juga para pengikutnya membentuk sebuah aliran baru yang dinamakan Kristen Protestan.

  • Perbedaan Atas Dasar Pengakuan Paus

Perbedaan Kristen dan Katolik yang pertama ada pada pengakuan tiap-tiap umat dengan pemimpin tertinggi di dalam agama tersebut. Pada agama Katolik, sampai saat ini mengakui jika mereka di pimpin oleh Paus, sementara tidak demikian dengan umat Kristen yang tidak mengakui Paus sebagai pemimpin paling tinggi agama.

Pengakuan terhadap paus inilah yang menjadi dasar dari pecahnya agama Kristen menjadi dua agama besar, dimulai saat Paus Leo X yang ajarannya tidak sesuai dengan Alkitab dengan cara menjual surat pengampunan dosa untuk bangsawan dan memakai uang tersebut untuk membangun gereja Basilika yang menjadi gereja paling megah di dunia. Ajaran dari Paus Leo X ini dianggap salah dan di tentang oleh Martin Luther yang kemudian memutuskan untuk keluar dari ajaran Katolik bersama dengan para pengikutnya, para umat Katolik kemudian menganggap Martin Luther sebagai seorang kafir dan menamai Protestan.

  • Perbedaan Dari Segi Alkitab

Tidak hanya berbeda dalam urusan pemimpin tertinggi agama, namun Kristen dan Katolik juga berbeda dalam urusan Alkitab, Alkitab sendiri merupakan pegangan dan panduan dalam menjalani agama.

Dalam Alkitab umat Katolik memiliki 12 tambahan kitab yang bernama kitab Deutro-Kanonika, sementara Alkitab Kristen tidak memiliki 12 tambahan kitab tersebut dan umat Kristen tidak mengakui tentang Deutro-Kanonika tersebut karena doktrin Purgatory dari Martin Luther.

  • Perbedaan Tafsiran Alkitab

Pada ajaran agama Katolik, tafsiran Alkitab hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah ahli yang biasanya disebut dengan Magisterium dan para Magisterium ini berpusat di Roma, Italia, sehingga umat Katolik hanya mengikuti penafsiran dari para Magisterium itu dan tidak diperbolehkan menafsirkan secara individual yang membuat persatuan umat Katolik terjalin dengan erat.

Pada ajaran umat Kristen, penafsiran Alkitab bisa dilakukan oleh siapapun dan semua orang secara bebas bisa menafsirkan dari sudut pandang yang mereka miliki, inilah yang membuat ajaran Protestan kembali terbagi menjadi beberapa aliran seperti conohnya Baptis [GBI], Advent, Kharismatik, Pentakosta dan lain sebagainya.

  • Perbedaan Dalam Pengakuan Orang Kudus

Para umat Katolik sangat percaya dengan para orang kudus atau suci yang memiliki sebutan Santo untuk orang kudus laki-laki dan Santa untuk orang kudus wanita. Nama dari orang kudus Katolik ini banyak di pakai untuk nama gereja seperti contoh gereja Santo Matheus, gereja Santa Maria, gereja Santo Paulus dan lain sebagainya.

Nama orang kudus juga digunakan umat Katolik sebagai nama baptis setiap umat Katolik seperti contohnya Thomas, Maria, Anastasya, Bernadette, Benedictus, Yohanes, Fransiskus Xaverius dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, pada umat Kristen tidak mengakui keberadaan orang kudus tersebut, sedangkan untuk baptis bayi, umat Kristen biasanya memakai nama-nama Nabi seperti contohnya Samuel, Abraham, Adams, David dan sebagainya.

  • Perbedaan pada sakramen suci

Pada agama Katolik ada 7 macam sakramen suci yakni baptis yang umumnya dilakukan pada saat masih bayi atau orang dari luar Katolik yang ingin masuk menjadi Katolik, sakramen Krisma yang diberikan pada saat usia remaja sebagai sakramen penguatan, Ekaristi yang diadakan setiap minggu di gereja, Pentahbisan yang dilakukan untuk menjadi seorang Pastor [Imamat], pernikahan, pengakuan dosa dan juga pengurapan orang sakit. Hal ini berbeda pada agama Kristen, sebab Kristen hanya memiliki 2 upacara atau sakramen saja yakni Baptis dan juga Ekaristi.

  • Perbedaan gender pemuka agama

Pada agama Kristen tidak ada perbedaan gender atau jenis kelamin untuk urusan pemuka agama sehingga laki-laki dan wanita bisa berkesempatan untuk menjadi seorang Pendeta.

Sementara pada agama Katolik, hanya laki-laki saja yang diperbolehkan untuk menjadi seorang pemuka agama atau Pastor dan wanita menjadi seorang biarawati atau suster saja, selain itu Pastor dan juga Biarawati juga tidak diperbolehkan untuk menikah.

  • Perbedaan dalam pengakuan Maria

Pada Katolik teramat mengkultuskan Bunda Maria dan berbeda dengan Kristen yang tidak mengakui keberadaan dari ibu Yesus tersebut. Selain itu, Katolik biasanya memakai patung orang suci yang diletakkan pada gereja seperti patung Yesus, Bunda Maria, Santo dan juga Santa. Akan tetapi dalam Kristen tidak menggunakan patung-patung tersebut dan beranggapan patung sebagai berhala yang sangat dibenci Tuhan serta hanya memakai salib sebagai simbol dari agama.

  • Perbedaan aturan kawin cerai

Perbedaan Kristen dan Katolik selanjutnya adalah dari segi aturan kawin cerai, pada ajaran Katolik, Pastor dan juga Biarawati tidak diperkenankan untuk menikah dan untuk umat yang ingin menikah juga hanya boleh dilakukan satu kali seumur hidup.

Sementara dalam ajaran Kristen, pemuka agama diperbolehkan untuk menikah, begitu juga dengan umatnya serta diperkenankan untuk menikah lebih dari 1 kali dalam hidup.

  • Perbedaan dalam beribadah

Cara beribadah Katolik dan juga Kristen juga berbeda, dimana umat Katolik akan membuat tanda salib dengan cara menyentuh bagian dahi, dada, bahu bagian kiri dan bahu bagian kanan secara berurutan, sedangkan umat Kristen tidak melakukan ini pada saat memulai ritual berdoa mereka.

Penyebutan proses ibadah juga berbeda untuk Kristen dan juga Katolik, pada Katolik disebut dengan misa dan pada Kristen disebut dengan kebaktian, akan tetapi meskipun berbeda kedua agama ini tetap menunaikan ibadah di gereja pada hari Minggu.

  • Perbedaan Hierarki atau tingkatan

Pada Katolik terdapat hierarki atau tingkatan yaitu Pastor, Uskup, Kardinal dan Paus, sehingga membuat pemuka Katolik bisa meningkat jabatannya hingga menjadi seorang Paus, sementara pada Kristen tidak memiliki hierarki semacam ini. Selain itu, pada gereja Katolik juga memiliki hierarki atau tingkatan yakni kapel yang merupakan gereja kecil, gereja paroki yang merupakan tempat kedudukan dari Pastor.

Katedral yang merupakan tempat kedudukan dari Uskup atau Kardinal dan juga Basilika yang merupakan tempat kedudukan dari seorang Paus. Semakin tinggi kedudukan hierarki, biasanya dari segi ukuran juga akan semakin besar, sementara pada Kristen tidak memiliki hierarki. Itulah rangkuman ulasan yang bisa kami berikan mengenai Perbedaan Agama Kristen Dan Katolik mendasar yang bisa kami berikan, kami harap ulasan kali ini bisa menambah wawasan anda tanpa ada maksud sedikit pun untuk menghina atau menyudutkan agama tertentu.

  • Perbedaan Berdoa

Dalam agama Kristen hanya melakukan berdoa dengan menutup mata dan melipat tangan, dan kalau bagi agama Katolik melakukan berdoa dengan ada kalimat pembukaan dengan melakukan salib atau yang sering dikenal dengan nama bapa, putera, dan roh kudus amin. Ini dilakukan dalam melakukan pembukaan sebelum berdoa dan setelah penutup akhir dalam berdoa.

  • Perbedaan Pelayanan Gereja

Bagi agama Katolik mempunyai Biarawati dan Biarawan untuk penambahan pelayanan dalam Gereja dan menuntut untuk mereka tidak menikah dan merelakan hidupnya hanya untuk melakukan pelayanan untuk Gereja. Namun, bagi agama Kristen itu tidak ada mereka hanya melakukan pelayanan dengan tidak menikah, itu hanya dengan keinginan dari hati mereka sendiri.

  • Perbedaan Denominasi Gereja

Gereja Kristen dan Gereja Katolik mempunyai bentuk dalam yang berbeda pada keduanya. Gereja Katolik yang biasanya lebih mempunyai banyak perlengkapannya dibandingkan dengan agama Kristen. Agama Katolik yang menambahkan lonceng yang besar dan sedangkan agama Kristen tidak mempunyai lonceng yang besar untuk ibadahnya.

  • Perbedaan Tata Susunan Ibadah

Ibadah penyusunan dalam Gereja Kristen dan Katolik sangatlah lebih berbeda, biasanya dalam Gereja Katolik dia mempunyai ibadah penyusunan yang lebih lama dan banyak dibandingkan dengan ibadah Kristen. Gereja Katolik harus lebih banyak menyiapkan altar persiapan Gereja yang lebih banyak dibandingkan dengan Gereja Kristen.

  • Perbedaan Ajaran Agama Yang Lebih

Jemaat dalam Kristiani hanya mengikuti sesuai dengan pada ajaran Kristen, namun dalam Katolik setidaknya mereka suka menambahkan dan ajaran yang baru dan lebih beda lagi. Dalam doa kedua agama tersebut ada mempunyai doa yang berbeda dan agama Katolik cenderung lebih banyak mempunyai doa.

Ulasan ini kami berikan hanya untuk menambah pengetahuan anda dan juga menjawab pertanyaan yang sering terlintas mengenai perbedaan dari Kristen dan juga Katolik, semoga bisa bermanfaat dan salam damai untuk semua manusia di seluruh dunia, terima kasih.

perbedaan katolik protestan
26 Januari 1564

Perpecahan Katolik dan Protestan yang Berujung Intoleransi

Yohanes Calvin segera tenar setelah ia menerbitkan buku Pengajaran tentang Agama Kristen atau Religionis Christianae Institutio (biasa disebut “Institutio“) pada 1536. Buku itu berisi bahan ajar sederhana yang ditujukan bagi orang banyak, hampir seperti Katekismus Besar yang ditulis Martin Luther. Meski sederhana, Institutio menuai banyak penolakan. Di Paris, misalnya, ia disambut dengan pembakaran.

Sebelum pembakaran buku terjadi, Calvin sudah terlebih dulu melarikan diri dari tanah kelahirannya di Noyon, Perancis. Ia dipersekusi kalangan Katolik Roma lantaran menjadi pengikut Luther, orang yang menggerakkan Reformasi Gereja lewat 95 dalilnya. Meski tidak pernah bertemu langsung dengan Luther, Calvin mengagumi tulisan-tulisan pendeta dari Jerman itu.

Teolog Belanda Thomas Van Den End dalam Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (2001) menceritakan, Calvin melarikan diri ke Jenewa, Swiss. Di sana, ia bertemu dengan Farel, seorang pendeta yang mendukung Refomasi Gereja (hlm. 187).

“Tatkala pendeta setempat, Farel, mendengar Calvin berada di kota itu, segera ia pergi ke tempat penginapan, lalu mendesak Calvin supaya tinggal di Jenewa dan membantu dia dalam pekerjaan. Kota itu baru saja memilih pihak reformasi dan banyak penduduk yang bandel terhadap tuntutan Injil mengenai Kristen,” tulis Thomas.

Setelah dibujuk, Calvin akhirnya bersedia tinggal. Ia pun mulai menerapkan teokrasi pada jemaat di sana. Warga diwajibkan ikut mendengarkan firman Allah dan perjamuan kudus. Jika ada yang tidak menerima ajaran gereja, akan diusir dari kota.

Sayangnya, jemaat belum siap. Penerapan teokrasi justru menimbulkan perpecahan dan bentrokan. Karena kekacauan itu, pemerintah kota pun melarang Farel dan Calvin naik mimbar. Bahkan, Calvin diusir dari Jenewa.

Pengusiran itu justru membuat Calvin makin giat. Pada 1541, ia kembali ke Jenewa dan mulai menulis buku lagi. Saat itulah ia menyusun undang-undang gerejawi dan membuat sistem presbiterial di mana fungsi penatua dan diaken diberlakukan lagi. Penatua dan diaken pun dipilih dari jemaat yang sudah dewasa. Pengaruh gagasan Calvin ini makin meluas setelah Universitas Jenewa didirikan pada 1559.

“Dengan demikian lahirlah pula gereja-gereja Calvinis di luar Swis. Di Perancis, Belanda, Skotlandia, Jerman Barat, dan Hongaria,” tulis Thomas (hlm. 192).

Situasi ini membuat Katolik Roma gerah. Untuk menyerang gerakan Reformasi Gereja yang makin membesar, gereja Katolik membuat ordo Serikat Jesuit. Tugas ordo ini adalah menyatukan semua gereja di dunia di dalam satu gereja, yakni gereja Katolik.

Masih dalam buku yang sama, Thomas mengatakan, salah satu cara gereja Katolik dalam menghambat gerakan Reformasi adalah mendirikan sekolah-sekolah yang bermutu untuk menarik murid-murid Protestan bergabung. Tidak hanya itu, para paderi Katolik juga didorong menjadi pembimbing rohani raja-raja. Dengan demikian, mereka bisa memengaruhi para penguasa guna memerangi gerakan Reformasi.

Gagalnya Upaya Mempersatukan

Konflik berkepanjangan ini sebenarnya pernah dicoba didamaikan lewat Konsili Trento pada Desember 1563. Sayangnya, upaya ini gagal. Gereja Katolik tidak mengakomodasi kritik-kritik yang disampaikan kelompok Reformasi.

Misalnya kritik soal indulgensia atau surat penghapusan dosa yang dilayangkan Luther. Alih-alih menghapusnya, para pemimpin umat di Konsili Trento tetap mempertahankannya, meski kemudian ditambahi aturan tertentu.

Antonius Eddy Kristiyanto OFM, profesor sejarah gereja di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dalam bukunya Reformasi Dari Dalam: Sejarah Gereja Modern (2004), menuliskan bahwa gereja Katolik sama sekali tidak goyang dengan ulah Luther dan kawan-kawannya. Gereja Katolik tetap tidak bisa menerima gerakan Reformasi sebagai bagian dari mereka.

“Konsili Trento dimaksudkan terutama untuk menghukum dan mengutuk kesalahan-kesalahan dasariah yang dianggap sebagai para ‘bidah’ zaman itu (Tegasnya gerakan pembaruan keagamaan di bawah patung Protestantisme), dan untuk mengajarkan doktrin yang benar dan Katolik,” tulis Eddy.

Pada 26 Januari 1564, tepat hari ini 454 tahun lalu, melalui bulla Benedictus Deus, Paus Pius IV menetapkan dekrit-dekrit konsili. Gereja Katolik tidak mengakui Reformasi dan menganggap mereka menyimpang dari ajaran gereja. Sejak itulah Katolik dan Protestan secara resmi dibedakan dan menjadi agama sendiri.

Keputusan Paus Pius IV, menurut Eddy, justru membuat gereja Katolik mengubur dirinya sendiri. “Arogansi ini mengalahkan warisan luhur Yesus Kristus, yakni pertobatan dan kerendahan hati,” lanjutnya.

Meski ada kritik terhadap Konsili Trento, ia sebenarnya memiliki makna penting dalam perjalanan Katolik. Sebab pada konsili itu, doktrin-doktrin Katolik dirumuskan dengan lebih luas namun spesifik. Otto Hentz SJ, seorang rohaniawan Katolik, dalam Pengharapan Kristen (2004) menyatakan, salah satu doktrin penting yang dirumuskan dalam Konsili Trento adalah doktrin api penyucian.

“Konsili Trento yang mengeluarkan doktrin gereja mengenai api penyucian, hanya menegaskan dua hal: ada proses pemurnian dan doa orang beriman atas nama orang mati merupakan bantuan bagi mereka yang meninggal,” tulis Otto (hlm. 105).

Intoleransi Berkepanjangan

Skisma Katolik-Protestan adalah perpecahan terbesar dalam sejarah agama Kristen. Sebelumnya, pada abad ke-11, skisma serupa pernah terjadi. Saat itu, gereja Katolik dan gereja Ortodoks Timur yang berpusat di Konstantinopel juga berpisah.

Perpecahan tersebut didorong oleh faktor dari luar dan dalam. Dari luar karena makin meluasnya Islam dan membuat Konstantinopel, yang dikuasai kerajaan Romawi Timur, terancam. Sedangkan dari dalam karena munculnya aliran-aliran yang dianggap sesat oleh gereja Katolik.

Dalam Agama dan Kerukunan (2002), mantan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Andreas Ywangoe mengatakan, skisma itu memunculkan perbedaan dalam sakramen gereja.

“Contoh bagaimana gereja Timur membuat konstruksi keagamaannya dapat dilihat dalam paham tentang pejabat gereja dan sakramen. Berbeda dengan gereja Barat, pejabat Gereja Timur diizinkan menikah. Gereja Timur mempunyai 7 sakramen, sama seperti Gereja Barat, tetap berbeda dalam beberapa hal,” tulis Andreas (hlm. 257).

Jika skisma pertama tidak menimbulkan konflik besar, perpecahan Katolik dan Protestan memicu perseteruan panjang dan sederet intoleransi antara dua agama itu. Masih dalam buku yang sama, Thomas Van Den End menyatakan bahwa orang-orang Katolik kerap menyebut penganut Protestan sebagai penyesat dan disamakan dengan penjahat yang patut dihukum.

Di Eropa tengah, misalnya, ada kelompok minoritas Protestan yang ditindas mayoritas Katolik. “Melalui penindasan yang berlangsung selama satu setengah abad dan yang tidak enggan memakai cara-cara yang paling kejam—sampai-sampai pembunuhan ribuan orang sekaligus—persentasi itu turun menjadi 2 persen saja,” urai Thomas (hlm. 199).

Sebaliknya, di negara yang dikuasai Protestan, kelompok Katolik juga mengalami diskriminasi. Mereka dijadikan sebagai warga negara “kelas dua” yang tidak mendapat tempat dalam kehidupan politik.

Menyikapi perbedaan tersebut, kelompok Protestan pun terpecah. Pengikut Luther lebih terbuka dan menghargai perbedaan keyakinan dengan Katolik. Namun para pengikut Calvin bersikap sebaliknya.

Pemerintahan yang dikuasai pengikut Calvin menganggap kaum minoritas Katolik sebagai pemberontak dan mencabut kewarganegaraannya. Orang Katolik juga dilarang melakukan aktivitas ibadah di gereja. Sikap berbeda ditunjukkan kaum Lutheran. Mereka lebih terbuka terhadap keyakinan lain.

Selain menimbulkan konflik, perpecahan ini juga memengaruhi pekabaran Injil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ketika pertama kali datang ke kepulauan yang kelak bernama Indonesia, Belanda membawa ajaran Katolik. Namun, karena kemudian Belanda dikuasai kelompok Reformasi, negeri jajahannya pun turut mengikuti. Gereja-gereja di Indonesia yang muncul saat kolonialisasi Belanda didominasi kelompok Lutheran dan Calvinist.

Sementara itu, Katolik yang berkembang di Indonesia adalah hasil dari penginjilan yang dilakukan Portugis, yang datang sebelum Belanda. Hal serupa juga terjadi di Filipina, yang lebih kuat dipengaruhi Katolik, sebab Portugis dan Spanyol yang bercokol di sana.

Tapi konflik di Eropa tidak sampai merembet ke Indonesia. Di negeri ini, Katolik dan Protestan tetap tumbuh berdampingan satu sama lain.

Sumber: TuhanYesus dan Tirto

Like-Share

Ustadz Herman Syam El-Hafizh

Da'i Hafizh Qur'an dan penulis buku-buku Islam at Majelis Qur'an Indonesia
Ustadz Herman Syam El-Hafizh
Like-Share

Latest posts by Ustadz Herman Syam El-Hafizh (see all)

Leave a Comment